KEPERGIANKU, KEBAHAGIAAN KELUARGAKU
Pagi ini aku sangat malas untuk bangun, untuk apa bangun .. toh tidurku benar-benar nyenyak, tidak ada yang menggangu, rasanya hari ini aku ingin bebas terbang ke angkasa. Oh.. suasana yang benar-benar nikmat. Yaa.. mungkin hanya halusinasiku saja. Tapi tidak aku sekarang terbang.. ke angkasa yang sangat tinggi sekali.. dan aku meraih bintang disana. Sungguh ini benar-benar indah sekali...
“Lea!!! Buka pintunya.. kenapa kamu baru pulang, Lea! Dengerin omongan bapak ini Lea, buka pintunya.. kamu harus sekolah!”
Suara itu .. sungguh berisik, aku benci suara itu.. aku ingin kenyamanan ini, tapi suara itu begitu mengganguku. Aku begitu ingin memusnahkan suara itu...
“ tidakkkk!!!! Aku tidak mau bangun dari tidurku.. ini begitu nikmat! Aku tidak mau sekolahhhh!!!! Untuk apa sekolah, toh bapak juga membenciku!!” sambil kulempar benda berat ke pintu, persisnya tepat seperti buku tebal yang aku gunakan untuk panduan sesuatu.
“astaghfirullah! Leaa... kau mabuk Lea! Sadarlah... dan buka pintunya!!! Atau bapak akan dobrak pintu ini Lea!”
Suara itu terdengar dengan nada khawatir, tapi juga suara itu membuat aku membenci dirinya, keluargaku, diriku dan bahkan hidupku. Aku muak dengan kehidupan ini. dan aku putuskan untuk menggunakan sesuatu yang bisa menenangkan otakku, dan kata orang itu obat setan! Tapi bagiku tidak, karena aku sekarang menggunakanya.
Brakkkkkkkkkkkkkk! Terbukalah pintu kamarku, bapak begitu terlihat kaget melihat keadaan kamarku yang berantakan, dan tentunya melihat kondisiku yang seperti orang sekarat.
“Lea.. apa yang kamu lakukan semalam, apa kamu tidak pernah mengerti barang apa yang kamu gunakan itu, kamu tidak pernah berfikir apa keuntungan benda gila itu, bapak benar-benar kecewa Lea dengan tingkah ulah kamu saat ini.. bapak benar-benar kecewa.” isak tangis juga terdengar dari mulut bapak, tapi tak hayal aku tak mampu membuka mataku untuk melihat ekspresi bapak ku saat ini. ini sungguh sulit.. dan sekarang aku tidak sadar apa-apa. Semua kosong!
Kubuka mataku pelan-pelan.. ya semua tampak sama seperti sebelumnya, dan aku masih ingat semua tempat ini, kamarku.. dan bapakku yang setia menemaniku disaat aku seperti ini.
Aku begitu nyaman berada disampingnya, telah sekian lama aku menanti ini semua.. dan akhirnya kudapatkan juga, tapi..
“Mirah? Untuk apa kau datang kemari.. setelah sekian lama kau menghilang, dan tidak ingat keluargamu lagi, sekarang keadaan anakmu seperti ini kau masih berani menampakan muka mu? Kau sugguh hina Mirah! Keluar kau.. dan ajak orang gilamu itu angkat kaki! Cepattt!!!”
Iyaa... itu pemandangan biasa bagiku, teriakanya.. perkelahianya, aku sudah biasa melihatnya, tak heran dengan adanya itu semua maka obat setan pun juga datang menghampiriku.. aku menggunaknya karena aku frustasi melihat kedua orang tuaku berkelahi.
Dan barusan aku merasakan kenyamanan berada di samping bapaku, tapi ibuku datang dan menghancurkan keluargaku lagi.. membuat bapaku murka terhadapnya. Aku benar-benar ingin menghabiskan mereka semua.. aku benar-benar sudah gila!
“aku hanya ingin melihat anaku, aku mendengar berita dia memakai narkoba dan mabuk tadi malam, aku khawatir terhadapnya!!!” ucap ibuku dengan nada keras layaknya membantah tuduhan dari bapaku tadi.
“ jangan naif kau Mirah, pergi saja aku tidak mau melihat muka mu lagi.. dan bawa pergi peliharaanmu itu, aku tak sudi menerima tamu seperti dia. Cepatt pergii dan angkat kaki dari sini!” nada bapaku semakin meninggi.
Aku sangat takut walaupun aku sudah terbiasa dalam keseharianku, tapi ada juga saatnya dimana seseorang telah kehabisan emosionalnya, dan sekarang seperti aku .. aku benar-benar merasa takut melihat kejadian saat ini. aku putuskan keluar dari rumah dengan membawa baju ala kadarnya dan uang sakuku kurang lebihnya cukup untuk tiga hari. Tanpa pamitan aku langsung pergi begitu saja.
Aku telfon Zheo dan kusuruh dia untuk menjemputku di halte terdekat rumahku. Tapi sudah empat jam lebih dia tidak nongol juga.. bapaku juga tidak mencariku, sungguh ternyata mereka semua tidak menyayangiku.
Aku putuskan untuk menjauh dari halte itu dengan membawa ransel pakaian tidak jelas, masih serupa pakain untuk ke kafe tadi malam. Itu membuatku jadi pusat perhatian dijalanan.
Disepanjang jalan aku terus menggerutu .. Zheo lelaki yang katanya bakal setia untuk aku apa adanya, tapi disuruh jemput tidaklah nongol.. dengan alesan ibunya sakit jadi harus menggu dirumah sakit. Itu benar-benar membuatku frustasi .. sungguh otakku diracuni kejahatan. Bunuh diri, atau membunuh orang lain itu yang selalu terlantas dalam otak kejiku.
Tidak sempat memikirkan hal gila itu .. tiba-tiba aku melihat seorang pria yang sedang duduk manis sambil merayu seorang wanita yang terlihat cantik dan seksi. Yah dan sepertinya aku mengenal pria itu.. benar sekali Zheo, penglihatanku masih jernih.. dan wanita itu.. tepat sekali tidak lain dan tidak bukan, Sarah.. teman aku sendiri, teman yang selalu ada setiap waktu, selalu menghibur dikala ku berduka.. dan sekarang dia menusuku dari belakang. Tak segan-segan aku menghampiri mereka dan langsung marah-marah didepan mereka.
“Zheo!! Apa yag kau lakukan dengan Sara!! Kau tadi bilang ibumu sakit dan sekarang kenyataanya kau malah berdua dengan perempuan tidak jelas ini!!” bentakku dengan mantap.
Mendengar hal itu Sara tidak terima dia menjorokanku hingga hampir terjatuh, dia sudah benar-benar bukan sahabatku yang selalu setia dalam keadaan apapun.
“ hei, perempuan bangsat!! Jaga mulutmu.. maksud kamu apa, perempuan tidak jelas, .. sudah terpampang nyata kamu sendiri yang tidak jelas, menggunakan narkoba dengan minuman keras layaknya kamu tidak punya masalah saja, dan kamu dijebak begitu saja dengan mudahnya mengikuti. Kamulah yang gila.. bodoh dan tidak jelas!!!” kalimat itu membuat aku ingin menghancurkan dan memusanhakan dirinya.
“diam kau wanita murahan, aku akan membunuhmu.. kau memang teman tapi musush secara nyata!!!” tantangku karena aku juga sudah muak dengan mukanya. Kuambil rambutnya dan kutarik dengan sekuat tenagaku. Itu pasti sakit sekali buktinya saja dia memberontak sekeras-kerasnya. Disitulah aku merasa bangga. Tapi itu hanya sekejap.. seseorang melawanku dari arah belakang, dan membuatku menjadi kewalahan, ya siapa lagi kalu bukan Zheo pria yang mungkin akan jadi penyelamatku sekarang dia akan membunuhku. Aku merintih kesakitan dan belum lagi aku berdiri, wanita itu menamparaku dengan sekuat tenaga membuat aku kewalahan dua kali lipat.
“Dengar baik-baik wanita bodoh! Zheo jangan harap ada di pelukanmu.. dia dekat denganmu hanya memanfaaatkanmu saja, seperti kebodohanmu itu. Hahahah. Jadi jangan harap dia akan meneyelamatkanmu.. dia juga muak dengan mukamu, kau begitu naif putri ratu ... dan ingat sekali lagi aku bukan temanmu bahkan sahabatmu lagi, aku tidak mau berkenalan dengan orang sebodoh kamu. Aku bukan Sarah yang dulu dan Semua orang akan membencimu. Ingat itu!!” kalimat itu keluar begitu mudah dari mulut yang katanya sahabatku.
“sorry princes stupid, hahaha makan tuh narkoba” ucap Zheo sambil pergi begitu saja meninggalkanku.
Tidak kusangka semua orang akan membenciku.. ya sekarang aku sendiri, disini tempat dimana aku memulai dunia gilaku, dan sepertinya dia benar, narkoba... aku akan memulainya lagi.
Kuambil benda itu dari ranselku, dan kunikmati, disitu juga aku merasakan kelegaan yang amat sangat. Ku suntikan jarum itu.. dan sekarang pikiranku kosong. Hanya terlihat lalu lalang kendaraan montor besar dan kecil. Bunyi klakson dimana-mana, sungguh aku bingung pusing kepalaku.. sepertinya obat itu mulai beraksi.. dan sekarang kakiku yang terus bergerak, ntah dimana aku sekarang.
“tinnnnnnnnnnnnnnnn!!!!!”
“awass nonaaa!!!!”
Hanya terpental dan terbentur batu yang ada disamping jalan. Itu yang kurasakan. Dan seseorang ntah siapa dia .. aku merasakan dekapanya. Aku menebak, dia pasti menyelamatkanku dari terjangan truk itu. Dan sekarang aku selamat .. tapi apa yang dipikirkan dia, aku manusia jihad, tak ada untungnya, aku sudah bukan manusia yang layak dibilang manusia, tapi kenapa dia menyelamatkanku. Namun obat itu lebih kuat menguasai otakku, dan sekarang aku tak sadar apapun. Tamapk kosong dan gelap seperti dulu.
Aku terbangun dengan kesadaranku sendiri. Dan tempat ini begitu asing menurutku. Tiba-tiba suara itu mengagetkanku.
“Assalamu’allaikum .. gimana nona sudah siuman?” dengan suara yang begitu khas dan bernada sabar.
“emmm iya, maaf anda siapa?” tanyaku keheranan sambil mencoba untuk duduk.
“oh iya maaf saya ceroboh, dan membawa anda ke gubuk ini. sebelumnya perkenalkan saya Tino” sambil menyebarkan senyumannya tapi laki-laki itu tidak menjulurkan tanganya. Aku sudah menduga dia laki-laki baik. Dan aku tidak pantas dibawa kesini.
“sudah adzan tuh waktunya sholat magrib, mari nona” ajak lelaki itu, dan membuatku untuk memutar otak bagaimana alasanku supaya tidak mengikuti ajakan itu.
“ aku masih belum bisa berjalan, kepalaku masih pusing. Kamu duluan saja”
“hei nona, Allah tidak akan memeberatkan hambanya, kalau nona tidak mampu berdiri nona bisa sholat dengan duduk, kalau duduk tidak sanggup maasih bisa dengan tidur, kalau semuanyaa tidak bisa itu berati sudah mati bukan? Jadi tidak ada alasan untuk menolak melakukan sholat nona.” Sepertinya ucapanaya benar, dan aku salah masuk rumah.. dan mau tidak mau aku harus mengikutinya sambil berjalan dibelakangnya.
Kuambil air wudhu itu, yang terakhir kalinya aku lakukan 15 tahun lalu, dan saat ini aku melakukanya lagi demi kebaikanku juga. Kubaca perlahan-lahan lafadz Sang Maha Kholiq. Dan dengan spontan langsung menuju tempat sakral itu langsung kulakukan sholat mengahadap Pada-NYA. Air mataku tiba-tiba terjatuh aku baru menyadari begitu lamanya hidupku berbuat dosa dan luluh sekejap hanya karena aku dipaksa sholat oleh laki-laki malaikat yang beberapa jam lalu jadi pelindungku.
“terimakasih Tino, dalam sekejap aku baru sadar apa arti kehidupan ini, dan karenamu aku mampu menyampaiakan salamku Kepada-NYA, yang selama ini aku sempat meninggalkan-NYA.” Ucapku dengan senang layaknya aku mendapat sesuatu yang baru.
“iya nona sama-sama, itu memang kewajiaban sesama islam” jawabnya dengan singkat dan tak lupa ia selalu melemparkan senyum manisnya.
“ oh ya, kamu tidak perlu memanggil aku nona, panggil saja nama aku langsung, Lea .. dan kalu boleh tahu kenapa kamu menyelematkan aku malam itu?.”
“iya Lea, karena aku tahu kamu membutuhkan aku.. aku Tino bukan Tino yang kamu anggap orang lain, aku Tino kakak kandungmu yang selama ini menghilang, karena ibu meletakkanku di panti dan aku mencari semua informasi tentang keluargaku dari ibu panti, dan aku menemukanmu Lea, tapi sebelumnya aku sudah berbicara pada ibu.. dia bilang dan menyuruhku untuk menjagamu.. keadaanmu sekarang tidaklah baik, setelah tragedi bapak dan ibu kmaren malam aku langsung mencarimu dan sekarang aku bersamamu. Aku sudah yahu semua ceritamu.. tidak perlu kau menceritakanya lagi Lea” penjelasan Tino yang dia bilang kakak kandungku itu membuat aku benar-benar ingin menangis .. ternyata aku punya saudara, dan tidaklah aku senidiri yang menanggung derita broken home ini.. masih ada kakaku sekarang! sungguh Allah benar-benar menyayangiku.
Ketika aku ingin memeluk kakakku tiba-tiba dadaku sakit, jantungku berdebar begitu cepat dan kepalaku terasa pusing. Aku belum pernah merasakan haal ini. aku merintih kesakitan sambil memegang kepalaku. Kakakku begitu panik dan langsung membawaku ke Rumah Sakit Sutomo, aku diletakkaan di ruang UGD .. putih itu yang ada pada benakku sekarang.
Terdengar suara tangisan dari mulut kakaku
“sekejap hambamu menemukan kasih sayang untuk keluarga, namun kenaapa engkau ambil lagi ya Allah.. Engkau tidak mengijinkan hambamu merasakan kebahagiaan?”
Suara itu, tiada kata lain selain kakaku yang sedang kecewa selayaknya ia tidak mampu menjaga adiknya.
“Lea terkena penyakit langka, yang rumah sakit ini belum ada obatnya.. mohon maaf sebelumnya apakaah Lea mengkonsumsi obat-obatan terlarang?” suara dokter yang baru saja memeriksa tubuhku.
Keanehan terjadi, aku bisa melihat tubuhku tergeletak disana .. tampak lemas, bukan lemas lebih pantas tanpa nyawa, iyaa.. apakah aku sudah mati.. dan tampak disana dan kakakku menangis sambil menggoyang-goyangkan badanku, dan mesin detak jantung itu .. tergambar garis lurus.. sungguh itu pemandangan yang sakral. Aku tidak mengerti .. apakah ini aku benar-benar sudah mati? Beberapa menit kemudian karyawan baju putih itu membawaku dan mengkerubutiku dengan kain putih suci. Dan terlihat juga lagi-lagi kakaku menangis dihadaapn dokter, dokter hanyalah bisa mengelus-mengelus pundaknya layaknya sang dokter menghibur kakakku. Tidak lain dan tidak bukan sudah benar-benar jelas ditebak aku mati. Aku merasa kehilangan mereka.
Tampak jelas dipemakaman, iya itu bapak... dan itu ibu.. dan yang satu itu kakakku, mereka tampak bersatu lagi.. meskipun mereka menangisi kepergianku. simpanan ibu tidak tampak disitu, ini benar-benar keajaiban, mereka tampak bersatu kembali, dan ini membuat aku tersenyum simpul melihat mereka bersama diperistirahatan terakhirku.
~TAMAT~